Obong: Beginilah Warga Ngliman Menghargai Leluhurnya

Adicara Sungkeman sudah cukup dikenal banyak orang. Adegan ini merupakan adegan yang biasanya mengharukan dan sakral. Selain sebagai bentuk penghormatan sungkeman adalah prosesi yang sakral dimana mempelai pengantin lelaki dan perempuan meminta ijin dan restu kepada orang tua untuk menikah. Sungkeman juga dapat dideskripsikan sebagai sebauh cara seorang anak memohon maaf kepada orang tuanya. Di desa kami, Desa Ngliman, ada suatu ritual yang namanya sama, prosesinya beda. Adicara Sungkeman di Desa Ngliman bukan ketika acara pernikahan, melainkan ketika lebaran.

Adicara Sungkeman adalah sebuah upacara penghormatan kepada leluhur. Seperti diketahui, sejarah Ngliman erat hubungannya dengan Mbak Ngaliman. Beliau dipercaya sebagai leluhur dari warga Ngliman. Atas sejarah itu, setiap Hari Raya Idul Fitri, di Desa Ngliman diadakan ritual Adicara Sungkeman yang lebih dikenal dengan sebutan "Obong". Obong dilakukan di pagi hari, bahkan sebelum warga ber-sungkeman dengan keluarga.

Tahun lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti ritual Obong dari awal (tapi tidak sampai akhir). Ini merupakan yang pertama bagi saya, seperti apa ritual Obong ini akan dilalui pun sama sekali tidak saya mengerti. Hehehehe. Berangkat sebelum pukul 6.00 pagi, saya tiba di Kantor Desa yang letaknya bersebelahan dengan Gedong Pusaka. Di sana telah berkumpul pamong desa beserta sesepuh yang akan mengikuti prosesi Obong. Mereka berdiri berjajar mengelilingi rangkaian meja yang penuh dengan bunga kenanga. Saya kemudian sedikit berkesimpulan, ritual Obong ini semacam ziarah makam alias nyekar ke Makam Mbah Ngaliman.

 Setelah rombongan yang terdiri dari Pamong Desa, Juru kunci makam, Sesepuh, dan perwakilan tiap dusun lengkap, rombongan siap melakukan kirab menuju Makam Mbah Ngaliman. Bagi yang belum tahu, Makam Mbah Ngaliman terdiri dari Makam Gedong Kulon dan Makam Gedong Wetan. Tujuan pertama kami adalah Makam Gedong Kulon.



Setibanya di Makam, rombongan dipersilakan masuk ke dalam gedong makam, Prosesi Obong akan dilaksanakan di dalam ruangan makam dan dipimpin langsung oleh Kepala Desa didampingi Juru Kunci Makam. Inti dari acara ini adalah ziarah makam dan mendoakan mendiang. Saya tidak banyak bercerita tentang jalannya prosesi, biarlah foto yang menggambarkannya.
 





Prosesi berlangsung dengan sakral serta hikmat.

Obong belum usai sampai di situ. Seperti yang disampaikan di awal, Makam Mbah Ngaliman terdiri dari dua makam, sehingga prosesi ini dilanjutkan dengan kirab menuju ke Makam Gedong Wetan.
 Ini bagian yang paling menarik menurut saya. Sepanjang jalan menuju Makam Wetan telah berkumpul ratusan warga yang menanti rombongan kirab. Mereka bukan menunggu untuk berebut tumpeng, melainkan menyambut dan mengiringi rombongan kirab. Perlu diketahui, Makam Wetan berada satu lokasi dengan pemakaman umum warga Ngliman. Dan warga belum diijinkan nyekar sebelum acara kirab selesai. Saya melihat ini sebagai bentuk penghormatan warga terhadap leluhurnya.



Dan setelah ini, saya terjebak di kerumunan, dan tidak lagi mengikuti rombongan kirab. . . .

Sebagaimana disebutkan di awal, warga Desa Ngliman lebih mengenal ritual ini dengan sebuatan "Obong". Obong dalam bahasa Indonesia berarti "Bakar". Warga mengidentikan ritual ini dengan kegiatan membakar kemenyan pada rangkaian prosesinya dan membakar kotoran-kotoran yang mengotori makam, seperti daun-daun yang gugur. Warga berdatangan ke Pemakaman umum untuk nyekar ke makam keluarganya sekaligus membersihkan makam.

Di tahun ini, Adicara Sungkeman/ Obong akan dilaksanakan di hari pertama lebaran yang jatuh pada hari Minggu Wage tanggal 19 Juli 2015. Ini juga sangat menarik. Dalam penetapan tanggal lebaran, Warga Desa Ngliman menggunakan penanggalan ABOGE, yang lebaran setiap tahunnya sudah diketahui bertahun-tahun sebelumnya. Lain kali kita bahas ya . . . .

Comments

Popular posts from this blog

Pesona Gunung Wilis dan Jalur Pendakiannya

Situs Condrogeni: Sering Lewat, Tak Pernah Melihat

Menguak Sejarah Makam Desa Ngliman

Ki Ageng Ngaliman menurut Warga Ngliman