Lebaran di Ngliman yang Berbeda Tanggal

Perbedaan memang sering terjadi, ini bukanlah masalah. Justru beda adalah unik dan menarik. Yang menarik adalah apa bedanya dan mengapa berbeda.

Sebagaimana yang kita ketahui, penentuan lebaran oleh pemerintah dilakukan dengan mekanisme sidang isbat yang dihadiri berbagai elemen masyarakat. Hasilnya menjadi patokan pemerintah dalam menentukan Hari Raya Idul Fitri. Beda patokan, beda pula penentuan hari lebaran itu. Makanya, sering kali kita alami, perayaan lebaran yang berbeda hari. Bukanlah sebuah masalah ketika kita bisa saling menghargai, saling menghormati perbedaan tersebut.

Ngliman, sebagai sebuah desa yang kental dengan budaya warisan leluhurnya, juga punya cara yang sedikit berbeda dalam penentuan lebaran. Bukan dengan kalender masehi atau pun kalender hijriah, sesepuh Desa Ngliman menentukan hari lebaran dengan kalender ABOGE (Alif Rebo Wage). Memang tidak selamanya, lebaran yang ditetapkan pemerintah berbeda dengan lebaran di Ngliman. Tapi, untuk tahun ini, warga Ngliman baru akan merayakan lebaran pada hari Minggu Wage, 19 Juli 2015. Jika kita cermati tanggal merah di kalender masehi, di sana warna merah adalah untuk tanggal 17 dan 18 Juli 2015. Artinya, Lebaran di Desa Ngliman, tahun ini, berbeda dengan lebaran di tanggalan. Lebaran di Desa Ngliman belakangan. Apakah juga akan berbeda dengan Lebaran yang ditetapkan pemerintah, kita perlu menunggu hasil dari sidang isbat.

Sebelum saya bahas lebih lanjut, perlu saya sampaikan, lebaran yang saya maksud di sini adalah kegiatan saling sungkem, saling bersalaman, bersilaturahmi keliling ke keluarga dan tetangga. Sementara perayaan Hari Raya Idul Fitri yang ditandai dengan Shalat Ied, warga Desa Ngliman tetap merayakannya bersama, sesuai penetapan pemerintah. Bagi saya, ini sangat menarik. Bayangkan bagaimana cara masyarakat Ngliman melestarikan budaya warisan leluhur, tanpa mengganggu agama dan kepercayaan yang dianutnya. Warga tetap menjalankan syariat agama dan juga tetap melestarikan budaya leluhurnya, tanpa mencampuradukannya.

Kenapa hal itu bisa terjadi? jawabannya kembali pada itungan ABOGE yang menjadi dasar perhitungan sesepuh Desa Ngliman. Di desa Ngliman, lebaran ditandai dan didahului dengan prosesi OBONG. Penentuan kapan digelarnya prosesi OBONG ini mengacu pada kalender ABOGE yang awal bulan setiap tahunnya sudah ditetapkan. ABOGE sendiri merupakan kepanjangan dari Alif Rebo Wage, yang artinya tahun pertama penanggalan ABOGE disebut Tahun Alif, dengan 1 suro (tahun baru) tepat pada hari Rebo Wage. Tahun ini adalah tahun kedua dalam penanggalan ABOGE yang disebut Tahun EHe. Sesuai dengan penanggalan ABOGE, tanggal 1 Syawal pada Tahun EHe jatuh pada hari Mingu Wage yang bertepatan dengan tanggal 19 Juli 2015 penanggalan masehi.

Tentunya hal ini ngefek pada agenda lebaran warga Ngliman. Seandainya pemerintah nantinya menetapkan 1 Syawal jatuh pada tanggal 17 Juli 2015, maka warga Ngliman akan berbondong-bondong ke masjid hari itu. Tapi, jangan heran seandainya setelah itu masih banyak warga Ngliman yang memilih kembali berladang atau mengerjakan kegiatan lainnya. Bahkan, esok harinya, mereka masih asyik dengan kerjaannya. Belum terlihat tanda-tanda lebaran berupa kue-kue yangdisajikan. Hehehehe. Uniknya desaku, Desa Ngliman.

Nah, baru pada hari Minggu Wage, 19 Juli 2015, yang menjadi agenda pertama warga adalah ziarah kubur. Kami akan berbondong-bondong ke makam Desa Ngliman untuk berziarah. Tak heran jika sepanjang jalan menuju makam Desa Ngliman menjadi penuh sesak dengan warga. Dengan antusias mereka mengantri di gerbang makam, sembari menunggu prosesi OBONG selesai, yang menandakan warga diperkenankan untuk mulai berziarah. Silakan bagi yang ingin menyaksikannya . . ..




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pesona Gunung Wilis dan Jalur Pendakiannya

Situs Condrogeni: Sering Lewat, Tak Pernah Melihat

Menguak Sejarah Makam Desa Ngliman

Ki Ageng Ngaliman menurut Warga Ngliman