Showing posts with label Ngliman. Show all posts

Monday, November 14, 2016

Dibalik Mitos Air Terjun Sedudo Nganjuk

  No comments
4:28:00 PM


http://www.maringetrip.com/2016/04/bukit-watu-lawang-nganjuk.html
Para pengunjung yang berebut untuk mandi percaya bahwa air dari Air terjun Sedudo memiliki berbagai khasiat magis. Kepercayaan mengenai khasiat air Sedudo tidak lepas dari sejarah/mitos terjadinya Sedudo. Ada beberapa versi mengenai mitos tersebut. Berikut uraiannya :
Versi I : Terjadinya Air Terjun Sedudo berkaitan dengan mitos Sanak Pogalan.
Sanak Pogalan adalah petani tebu yang harus menelan kecewa dari penguasa. Dia pun bertapa disekitar sumber Air Terjun Sedudo lereng Gunung Wilis dan berupaya membuat sumber air yang besar untuk menenggelamkan Nganjuk. Note : konon ini juga merupakan salah 1 versi dari cerita tentang Sanak Pogalan.
Versi II : Di era Kerajaan Kadiri, seorang Resi bernama Curigonoto bermaksud menjadikan kawasan Sedudo sebagai hutan rempah. Kemudian ia pun memohon pada penguasa Kadiri untuk mengirimkan benih rempah kepadanya. Permohonannya pun dikabulkan, namun saat dikirimkan secara tiba-tiba bibit tersebut tumpah disekitar sumber Air Terjun Sedudo. Kemudian tanaman rempah pun tumbuh subur di sekitar sumber. Karena mitos-mitos itulah banyak pengunjung yang meyakini khasiat dari Air Terjun Sedudo. Prosesi mandi air di Sedudo ini dipercaya sudah berlangsung turun-temurun sejak jaman Kerajaan Majapahit, namun baru sekitar tahun 1987 prosesi ini dikemas sebagai kalender budaya dan berlangsung hingga sekarang. Dibalik Mitos Air Terjun Sedudo, Desa Ngliman terkenal kaya akan rempah-rempah, hal ini bisa dilihat dari jalan menuju Air Terjun Sedudo, banyak dijumpai pohon cengkeh yang berkualitas tinggi. Jika kita mendengar wisata air terjun Sedudo yang terletak di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan ini, akan selalu muncul dibenak kita jika air terjun ini mempunyai banyak khasiat, salah satunya adalah menjadi obat awet muda. Hal ini banyak diyakini masyarakat sekitar, juga masyarakat diluar Nganjuk. Terbukti jika wisata air terjun ini tak pernah sepi dari pengunjung. Baik yang hanya sekedar ingin menikmati pemandangannnya yang indah, atau memang sengaja ingin membuktikan mitos yang banyak berkembang itu. Namun tak banyak yang tahu apa yang menyebabkan air terjun yang berada di Kab Nganjuk bagian selatan itu mempunyai mitos seperti ini. Kalangan sejarah menilai, mitos ini berdasar atas sejarah terbentuknya air terjun itu dan kajian ilmiah. Harimintadji, salah satu tokoh sejarah di Nganjuk mengungkapkan ada sejarah dan perkiraan secara ilmiah tentang mitos itu. Dari tinjauan sejarah, saat itu air terjun Sedudo dibuat oleh salah satu tokoh warga sekitar bernama Sanak Pogalan. Ia merupakan petani tebu yang harus menelan kecewa dari peenguasa jaman itu. Karena kekecewaannya inilah, ia kemudian menjadi pertapa disekitar sumber air terjun Sedudo. Dalam pertapaannya, ia berniat untuk menenggelamkan Kota Nganjuk dengan membuat sumber air yang sangat besar. "Dia bersumpah untuk menggelamkan desanya itu. Dan dibuatlah sumber air yang sangat besar", tuturHarmintadji, yang pernah menjabat sebagai Wedoro Kabupaten Nganjuk itu. Karena kesucian Sanak Pogalan inilah, sebagian warga meyakini jika sumber air terjun Sedudo, mengandung beberapa khasiat, salah satunya menjadi obat awet muda. "Menurut sejarahnya sih begitu," tambah Harmintadji. Selain tentang sejarah, ia juga menduga jika secara ilmiah khasiat obat awet muda dari air terjun Sedudo ini bisa diraba. Menurutnya, versi lain dari terjadinya Air Terjun Sedudo, pada jaman kerajaan dulu, ada tokoh bernama Resi Curigonoto yang sengaja mengasingkan diri di atas lokasi air terjun. Dalam pengasingannya itu, Resi Curigonoto berniat untuk menjadikan hutan itu sebagai kebun rempah-rempah. Karena menganggap jika tanah hutan, bisa menjadi media yang sangat bagus untuk mengembangkan rempah-rempah yang saat itu menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Resi Curigonoto lantas meminta Raja Kerajaan Kadiri untuk mengirim rempah-rempah ke tempat pengasingannya itu. Namun, tak begitu jauh dari tujuannya, tiba- tiba gerobak-gerobak yang mengangkut rempah-rempah itu terguling diantara sumber air terjun Sedudo. "Lalu rempah-rempah ini tumbuh subur hingga memenuhi hutan yang menjadi tempat sumber air terjun Sedudo",tambahnya. Sehingga, lanjut pria yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sejak tahun 1964 itu, air yang mengalir keair terjun Sedudo banyak mengandung rempah-rempah itu. "Secara otomatis, rempah- rempah ini mampu menjadi obat yang multi khasiat, salah satunya adalah membuat wajah tampak bersih. Sehingga kelihatan awet muda",katanya. Mitos ini juga dijunjung tinggi oleh Pemkab Nganjuk sendiri. Buktinya, setiap bulan Syuro, Pemkab Nganjuk menggelar ritual "Siraman". Dimana akan banyak masyarakat Nganjuk yang mandi bersama di lokasi wisata air terjun ini. "Memang budaya siraman ini menjadi agenda tahunan Pemkab Nganjuk. Selain untuk menarik wisatawan, juga untuk melestarikan budaya yang sudah ada ratusan tahun silam, obyek wisata alam dan mempunyai daya tarik wisatawan dari luar daerah.

Selamat Berlibur di Nganjuk Kidul Sawahan

Read More

Friday, July 15, 2016

Nikmati Indahnya "Kota Angin" Jawa Timur

  No comments
12:46:00 AM

Kota angin, itulah sebutan yang selalu disematkan pada kabupaten Nganjuk. Nganjuk merupakan salah satu kabupaten yang ada di daerah Jawa Timur. Wilayahnya berada di dataran rendah, membuat daerah ini memiliki struktur tanah yang subur sehingga cocok untuk bertanam.

Tenar dengan sebutan kota angina dikarenakan daerah ini diapit oleh Gunung Wilis dan pegunungan Kendeng, yang menyebabkan hembusan angin cukup kuat.

Usut punya usut, Nganjuk ternyata memiliki daya tarik wisata bagi para traveler yang masi bingung dengan destinasi yang akan di tuju. Tak hanya alam yang memiliki daya tarik, Nganjuk pun memiliki sejarah dan juga kuliner yang mantap. Mari kita lirik beberapa wisata di Kota Angin ini

1. Indahnya Air terjun merambat di Roro Kuning


Anggunnya air terjun Rorokuning via tatikmentik.blogspot.com
Tempat ini merupakan salah satu tujuan wisata bagi warga sekitar. Fasilitas yang tersedia pun sudah diperbaiki terus menerus. Mulai dari outbound hingga kolam renang.

2. Megahnya Air terjun Sedudo, Gunung Wilis
Berada di Desa Ngliman, air terjun ini harus di tempuh pada jarak 30 km dari pusat kota nganjuk. Berdasarkan cerita yang beredar disana, konon katanya jika anda berkunjung dan mandi di air terjun tersebut pada bulan Sura, maka wajah anda akan awet muda. Cerita tersebut sudah diwariskan sejak zaman Majapahit.

3. Nikmati Derasnya air terjun Singokoromo

Deras sekali air terjunnya via agungpambudi72-sejarahdanperistiwa.blogspot.com
Destinasi ini harus anda kunjungi karenan pemandangan alam dan juga aliran airnya yang cukup deras. Padahal hanya memiliki ketinggian sekitar 20 m saja.

4. Menyukai hal-hal berbau klenik? Kunjungi Saja Gua Margo Tresno

Gua Margo Trisno dikenal sebagai tepat untuk mencari berkah bagi para warga sekitar. Jangan heran jika saat melihat gua ini anda merasakan nuansa mistik yang cukup kuat.

5. Kunjungi Makam Hayam Wuruk di Candi Ngetos


Candi yang diperkirakan merupakan Makam Hayam Wuruk
Tempat ini dipekirakan menjadi tempat peristirahatan terakhir sanga Raja Majapahit, Hayam Wuruk.

6. Kentalnya Budaya Tiongkok di Klenteng Hok Yoe Kiong


7. Mengunjungi salah satu masjid tertua di Nganjuk

Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Nganjuk. Pasalnya, masjid ini dibangun pada tahun 1745 Masehi. Masjid ini terletak di barat Lapangan Berbek kota Nganjuk. Pada waktu itu, masjid ini masih menggunakan atap berupa ijuk dan lantainya berupa adukan tanah liat dan kapur. Meski telah beberapa kali mengalami pemugaran, namun beberapa bagian masjid ini masih terjaga keasliannya seperti mimbar, bedug, serta beberapa ornamen seperti kerangka-kerangka yang terbuat dari kayu jati.

9. Nikmatnya Nasi Becek Nganjuk

Nasi satu ini mirip dengan soto, akan tetapi kuah yang di pakai lebih kental daripada biasanya. Karenanya akan lebih mirip dengan gulai atau kari. Nasi becek khas nganjuk ini dilengkapi dengan sate kambing yang telah ditusuk oleh sate.

10. Mantapnya Dumbleg
 Dubleg merupakan makanan yang mirip dengan dodol. Memiliki cita rasa yang manis dan legit. Sudah jarang memang yang ngejual, akan tetapi bagi yang ingin mencicicpi makanan jenis ini bisa dating langsung ke pasar-pasar tradisional seperti di pasar rejoso.

11. Nganjuk Punya onde-onde Njeblos Loh

Onde-onde yang bisa ketawa via www.timnhanhanh.com
Onde-onde khas nganjuk ini ternyata tidak memiliki isian sebagimana umumnya. Onde-onde ini dipanggil njeblos karena bentuknya mirip dengan bolu kukus bahkan mirip seperti orang ketawa.

12. Krupuk Upil

Tidak boleh jijik dengan namanya ya. Meski namanya tidak telalu bagus, yang pasti kerupuk ini tidak digoreng menggunkan minyak seperti umunya. Kerupuk ini di goring menggunakan pasir.

Jadi kapan anda mau datang ke kota ini?

Sumber : http://www.hipwee.com/travel/indahnya-kabupaten-nganjuk-yang-membuat-kota-angin-ini-wajib-dikunjungi/

Read More

Saturday, June 11, 2016

Pesona Gunung Wilis dan Jalur Pendakiannya

  8 comments
12:30:00 AM

Jalur Pendakian Gunung Wilis & Jalur Pendakiannya
Gunung Wilis adalah sebuah gunung non-aktif yang terletak di Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur,Indonesia. Tepatnya di antara kabupaten Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Madiun, Ponorogo dan Trenggalek. Gunung Wilis memiliki ketinggian 2.169 meter diatas permukaan laut (mdpl), serta puncaknya berada di perbatasan antara enam kabupaten yaitu Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek. Obyek wisata Gunung Wilis yang paling banyak adalah air terjun yang tersembunyi, Ada sebagian telah di kelola dan masih banyak yang masih alami dan belum terjamah tangan manusia. Beberapa tempat pariwisata yang kini mulai dikembangkan dan mulai dikenal masyarakat sekitar di Kediri adalah Air Terjun Ironggolo, Air Terjun Dholo yang terletak di Desa Besuki, Kecamatan Jugo, Kediri. Dan juga Gereja Batu Puhsarang yang terletak di Kecamatan Semen, Kediri.
Air Terjun Ironggolo dan Dholo yang terletak di Desa Besuki, Kecamatan Jugo biasa dikunjungi tak hanya warga Kediri, tetapi juga warga dari kota lain untuk melepaskan penat. Terletak di dataran tertinggi yang bisa ditempuh oleh kendaraan baik dari arah Mojo maupun Semen, membuat Kawasan Wisata Desa Besuki menjadi tujuan wisata terbaik untuk menghirup udara segar pegunungan. Kedua tempat wisata ini bisa ditempuh dalam kurun waktu 30-45 menit melalui jalur darat, baik dari jalur Mojo maupun Semen.
Daerah perbukitan Gunung Wilis pernah dilalui oleh Jenderal Sudirman, sebelum melakukan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta.
Pendakian Gunung Wilis
Pendakian Gunung Wilis dari arah timur dapat dimulai melalui Kabupaten Kediri tepatnya Kecamatan Mojo. Jalan menuju ke puncak gunung Wilis sudah dibangun memadai melalui Mojo. Selain pendakian melalui Kecamatan Mojo, menuju ke puncak juga bisa melalui Kecamatan Semen. Jalan alternatif baru yang dibangun oleh pihak pemerintah Kediri sangat memadai, dengan luas jalan yang bisa dilalui oleh 2 mobil. Sementara itu dari arah selatan Gunung Wilis dapat didaki dari Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Apabila ingin mencapai Gunung Wilis dari arah utara, pendakian dapat dimulai dari Kabupaten Nganjuk, sementara dari arah barat, pendakian dapat dimulai dari Kabupaten Ponorogo atau Kabupaten Madiun.
Pencarian Tentang Gunung Wilis :

  • Jalur pendakian gunung wilis dari madiun
  • Jalur pendakian gunung wilis via kediri
  • Jalur pendakian gunung wilis kediri
  • Jalur pendakian gunung wilis di nganjuk
  • Jendakian gunung wilis via ponorogo
Pegunungan Wilis
Menurut Peta OTF Fist Editions AMS 1 (tahun 1942) Prepared under the direction of the Chief of Engineers U.S.Army: Gunung Wilis (2.169 meter) terletak satu rangkaian dalam Pegunungan Wilis. Puncak tertinggi dari pegunungan Wilis adalah puncak Liman atau yang biasa disebut Puncak Ngliman yang terletak 2.563 meter dari permukaan laut. Pada puncak gunung inilah secara de facto merupakan perbatasan dari empat (4) kabupaten: Kediri, Nganjuk, Ponorogo, dan Tulungagung.
Hamparan sawah dengan latar belakang Gunung Wilis di Madiun.
Daftar Gunung Yang Ada di Sekitar Gunung Wilis
Di wilayah Kediri ada G. Cemorokandang (2256 mdpl), G. Malang (1860 mdpl), G. Watubangil (2196 mdpl), G. Obeng-obeng (1993 mdpl), G. Kendil (1887 mdpl), dan, G. Argoklono (1772 mdpl).
Di wilayah Nganjuk ada G. Jogopogo (2220 mdpl), G. Wilis Wilboz (2330 mdpl), G. Tapan sewelas (1283 mdpl), G. Mloloseketip (1270 mdpl), G. Lekerasu (1290 mdpl), dan G. Cumpleng (1375 mdpl).
Di wilayah Madiun: Pk. G. Bendo 1170 mdpl, pk. G. Manyutan 1565 mdpl, pk. G. Bulur 852 mdpl, pk. G. Kayurubung 1518 mdpl, pk. G. Kemamang, 1463 mdpl, dan pk. G. Seklajar 1295 mdpl.
Di wilayah Ponorogo: Pk. G. Dorowati 2207 mdpl, pk. G. Merning 2204 mdpl, pk. G. Argo Tawang 2284 mdpl, pk. G. Tugel 2174 mdpl, pk. G. Argo Kalang 2142 mdpl, pk. G. Wilis Zuid 1850 mdpl, pk. G. Dudha Karim 1894 mdpl, pk. G. Jeding 1612 mdpl, pk. G. Tumpak Candu 1602 mdpl, pk. G. Gayungan 1266 mdpl, pk. G. Beser 1328 mdpl, pk. G. Patuk Banteng 1630 mdpl, pk. G. Wader Gandul 1405 mdpl, pk. G. Banyon 1175 mdpl, pk. G. Picis 1170 mdpl, pk. G. Segogor 1181 mdpl, dan pk. G. Kemlandingan 1379 mdpl.
Di wilayah Trenggalek: Pk. Ngrembes 1332 mdpl dan pk. G. Sangku 1890 mdpl.
Di wilayah Tulungagung: Pk. G. Wilis Wilbur 2104 mdpl dan pk. G. Ngesong 1888 mdpl.
Masih banyak nama-nama puncak yang lainnya, namun nama gunung-gunung tersebut oleh masyarakat hanya dipanggil sebagai Gunung Wilis dan Gunung Liman saja.

Read More

Tuesday, June 7, 2016

Mitos Awet Muda dan Ritual Mandi Massal di Air Terjun Sedudo

  No comments
2:15:00 PM

Ratusan warga dari berbagai daerah melakukan aksi mandi massal dari Senin tengah malam hingga Selasa dini hari di Air Terjun Sedudo, Nganjuk, Jawa Timur. Mereka rela menggigil kedinginan lantaran meyakini ritual itu bisa membuat awet muda. Bahkan seorang anak yang ikut ritual itu sempat pingsan akibat tak kuat menahan dingin.

Informasi yang dihimpun Liputan 6 SCTV, Selasa (5/11/2013), ratusan warga itu mulai berdatangan dari berbagai daerah di Jawa Timur menuju Air Terjun Sedudo di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur menjelang malam.

Mereka sengaja datang untuk menunggu pergantian Tahun Baru Jawa, di sekitar Air Terjun Sedudo. Tepat pukul 00.00 dini hari, ratusan warga menuju bawah air terjun untuk melakukan tradisi mandi secara massal tepat di bawah air terjun.

Kendati demikian, aktivitas mandi di bawah Air Terjun Sedudo ini terus berlangsung lancar hingga pukul 03.00 WIB.

Dalam ritual itu, warga juga menyempatkan diri untuk mengambil air dari Air Terjun Sedudo. Mereka memasukkan air tersebut ke dalam sebuah botol kemasan, yang sudah dipersiapkan sebelumnya

"Mereka meyakini, mandi dan minum air terjun sedudo bisa membuat awet muda, mendekatkan pada jodoh, serta meningkatkan derajat tinggi," ujar Kepala Bagian Humas Pemkab Nganjuk Abdul Wachid.

Mandi massal di Air Terjun Sedudo ini merupakan tradisi turun temurun, yang sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadi bagian kekayaan budaya daerah. (Tnt/Ism)

Berikut ada beberapa foto waktu mandi massal di Air Terjun Sedudo :



http://news.liputan6.com/read/737898/mitos-awet-muda-dan-ritual-mandi-massal-di-air-terjun-sedudo

Read More

Sunday, October 25, 2015

Bedhaya Amek Tirta: Tarian Sakral Ritual Siraman Sedudo

  No comments
11:40:00 AM

Selasa, 13 Oktober 2015 yang lalu, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, di Air Terjun Sedudo diselenggarakan ritual Siraman Sedudo. Bagi yang datang langsung ke TKP, dan sempat melihat, terdapat para penari yang menampilan sebuah tarian sakral. , Bedhaya Amek Tirta adalah tarian yang ditarikan ketika

Read More

Thursday, July 30, 2015

[PICTURE] Watu Ulo antara Mirip, Mitos, atau Nyata Adanya

  1 comment
12:49:00 PM

 Beginilah penampakan Watu Ulo yang sempat dibahas di tulisan sebelumnya. Apakah semua hanya mirip? cuma mitos? atau justru nyata adanya?
Kami menampilkannya apa adanya, anda yan

Read More

[UPDATE] Sedudo Longsor, Benar atau Tidak

  1 comment
12:33:00 PM


 
Beberapa hari ini Air Terjun Sedudo memang dipadati pengunjung dari berbagai kota. Di tengah ramainya pengunjung, tersiar kabar tentang longsornya Air Terjun Sedudo. Bahkan, hingga memakan korban jiwa. Kabarnya Batu sebesar mobil jatuh lokasi pemandian.




Tim Ngliman.com berusaha mengonfirmasi kabar tersebut dengan datang langsung ke TKP. Tim yang datang melaporkan, di sana tidak ditemukan batu yang konon segede mobil. Justru, sebatang pohon yg berukuran tidak terlalu besar teronggok di lokasi pemandian. Kemungkinan

Read More

Thursday, July 9, 2015

Lebaran di Ngliman yang Berbeda Tanggal

  1 comment
6:37:00 AM

Perbedaan memang sering terjadi, ini bukanlah masalah. Justru beda adalah unik dan menarik. Yang menarik adalah apa bedanya dan mengapa berbeda.

Sebagaimana yang kita ketahui, penentuan lebaran oleh pemerintah dilakukan dengan mekanisme sidang isbat yang dihadiri berbagai elemen masyarakat. Hasilnya menjadi patokan pemerintah dalam menentukan Hari Raya Idul Fitri. Beda patokan, beda pula penentuan hari lebaran itu. Makanya, sering kali kita alami, perayaan lebaran yang berbeda hari. Bukanlah sebuah masalah ketika kita bisa saling menghargai, saling menghormati perbedaan tersebut.

Ngliman, sebagai sebuah desa yang kental dengan budaya warisan leluhurnya, juga punya cara yang sedikit berbeda dalam penentuan lebaran. Bukan dengan kalender masehi atau pun kalender hijriah, sesepuh Desa Ngliman menentukan hari lebaran dengan kalender ABOGE (Alif Rebo Wage). Memang tidak selamanya, lebaran yang ditetapkan pemerintah berbeda dengan lebaran di Ngliman. Tapi, untuk tahun ini, warga Ngliman baru akan merayakan lebaran pada hari Minggu Wage, 19 Juli 2015. Jika kita cermati tanggal merah di kalender masehi, di sana warna merah adalah untuk tanggal 17 dan 18 Juli 2015. Artinya, Lebaran di Desa Ngliman, tahun ini, berbeda dengan lebaran di tanggalan. Lebaran di Desa Ngliman belakangan. Apakah juga akan berbeda dengan Lebaran yang ditetapkan pemerintah, kita perlu menunggu hasil dari sidang isbat.

Sebelum saya bahas lebih lanjut, perlu saya sampaikan, lebaran yang saya maksud di sini adalah kegiatan saling sungkem, saling bersalaman, bersilaturahmi keliling ke keluarga dan tetangga. Sementara perayaan Hari Raya Idul Fitri yang ditandai dengan Shalat Ied, warga Desa Ngliman tetap merayakannya bersama, sesuai penetapan pemerintah. Bagi saya, ini sangat menarik. Bayangkan bagaimana cara masyarakat Ngliman melestarikan budaya warisan leluhur, tanpa mengganggu agama dan kepercayaan yang dianutnya. Warga tetap menjalankan syariat agama dan juga tetap melestarikan budaya leluhurnya, tanpa mencampuradukannya.

Kenapa hal itu bisa terjadi? jawabannya kembali pada itungan ABOGE yang menjadi dasar perhitungan sesepuh Desa Ngliman. Di desa Ngliman, lebaran ditandai dan didahului dengan prosesi OBONG. Penentuan kapan digelarnya prosesi OBONG ini mengacu pada kalender ABOGE yang awal bulan setiap tahunnya sudah ditetapkan. ABOGE sendiri merupakan kepanjangan dari Alif Rebo Wage, yang artinya tahun pertama penanggalan ABOGE disebut Tahun Alif, dengan 1 suro (tahun baru) tepat pada hari Rebo Wage. Tahun ini adalah tahun kedua dalam penanggalan ABOGE yang disebut Tahun EHe. Sesuai dengan penanggalan ABOGE, tanggal 1 Syawal pada Tahun EHe jatuh pada hari Mingu Wage yang bertepatan dengan tanggal 19 Juli 2015 penanggalan masehi.

Tentunya hal ini ngefek pada agenda lebaran warga Ngliman. Seandainya pemerintah nantinya menetapkan 1 Syawal jatuh pada tanggal 17 Juli 2015, maka warga Ngliman akan berbondong-bondong ke masjid hari itu. Tapi, jangan heran seandainya setelah itu masih banyak warga Ngliman yang memilih kembali berladang atau mengerjakan kegiatan lainnya. Bahkan, esok harinya, mereka masih asyik dengan kerjaannya. Belum terlihat tanda-tanda lebaran berupa kue-kue yangdisajikan. Hehehehe. Uniknya desaku, Desa Ngliman.

Nah, baru pada hari Minggu Wage, 19 Juli 2015, yang menjadi agenda pertama warga adalah ziarah kubur. Kami akan berbondong-bondong ke makam Desa Ngliman untuk berziarah. Tak heran jika sepanjang jalan menuju makam Desa Ngliman menjadi penuh sesak dengan warga. Dengan antusias mereka mengantri di gerbang makam, sembari menunggu prosesi OBONG selesai, yang menandakan warga diperkenankan untuk mulai berziarah. Silakan bagi yang ingin menyaksikannya . . ..





Read More

Friday, July 3, 2015

Situs Condrogeni: Sering Lewat, Tak Pernah Melihat

  No comments
7:48:00 AM


Mencari informasi tentang Situs Condrogeni memang membutuhkan upaya yang lebih. Mbah Google yang biasanya menjadi rujukan utama segala kekurangan informasi pun tak banyak memberikan referensi. 

Nama Condrogeni banyak dikaitkan dengan seorang patih dari Kerajaan Ngatas Angin, Raden Bagus Condrogeni. Kerajaan Ngatas Angin sendiri dipimpin oleh Raden Condromowo yang kemudian bergelar Raden Ngabei Selopurwoto. Raden Condromowo adalah Paman dari Raja Majapahit, Hayam Wuruk. Konon, Hayam Wuruk memerintahkan Raden Condromowo untuk membangun sebuah Candi yang sekarang kita kenal dengan Candi Ngetos. Situs Condrogeni sendiri dipercaya sebagai penanda wilayah kepatihan Raden Bagus Condrogeni. Letaknya sekitar 15 km dari Candi Ngetos.

 Situs Condrogeni terbagi menjadi dua bagian, satu berada di bawah, sedangkan satunya lagi berada di atas. Arca – arca di Situs Condrogeni sangat unik dengan bentuk yang mengarah ke arca Megalitik. Arca – arca Condrogeni kemungkinan peninggalan masa Kerajaan Majapahit akhir. Selain arca, dulu di Situs ini terdapat talud (talud bisa diartikan sebuah pasangan batu belah yang berfungsi sebagai penahan tanah agar tidak longsor), tapi sekarang sepertinya tertutup tanah dan tanaman sehingga tak kelihatan lagi. Selain itu, dulu juga terdapat banyak arca disini, entah sekarang musnah kemana semua arca itu.
Situs Condrogeni bagian bawah terdiri dari satu arca dwarapala, dua buah menhir atau tugu batu dan sebuah batu yang bentuknya menyerupai stupa. Arca dwarapala dibawah sini memiliki bentuk gemuk, mulut menyeringai dengan gigi taringnya yang tajam, rambut gimbal nan panjang, dan hidung yang besar. Tangan kanannya memegang pedang polos tanpa ukiran, memakai kalung, gelang serta anting – anting dikedua telinganya. Arca disini dalam posisi jongkok dan memakai kain untuk menutupi daerah kemaluannya (seperti yang dipakai para pesumo).

Di Situs Condrogeni bagian atas terdapat sekitar dua buah umpak, sebuah menhir dan sebuah arca dwarapala. Arca dwarapala disini lebih ramping dan tinggi dari arca yang ada dibawah. Arca tersebut memegang pedang berukir yang patah, memakai kain penutup kemaluan, memakai kalung dan memiliki payudara (arca perempuan ?). Bagian mata dan hidung arca melesak ke dalam dan tangan kanannya putus.Adanya umpak disini, kemungkinan pernah ada suatu bangunan pendopo. Dengan adanya arca dwarapala di atas dan dibawah, kemungkinan Situs ini merupakan suatu bangunan punden berundak seperti Candi Sukuh maupun Candi Ceto.
Situs Condrogeni, suatu Situs yang tak pernah disangka, berada dibalik hiruk pikuknya wisata Air Terjun Sedudo. Suatu Situs peninggalan purbakala yang layak dijaga dan dilestarikan. Suatu Situs peninggalan purbakala yang bertahan selama ribuan tahun dalam selimut kabut Gunung Wilis yang suci.

Dan ternyata kita hanya sering lewat, tanpa pernah melihat situsnya. Bagi yang sudah mondar-mandri ke Air Terjun Sedudo, tentu sekilas pernah melihat plang "Situs Condrogeni" letaknya sekitar 2 km sebelum Air Terjun Sedudo. Menyempatkan mampir ke sana adalah keputusan yang tepat. Walaupun memang, jalan menuju ke sana tidak dapat dijangkau dengan kendaraan bermotor, kita harus berjalan kaki melewati jalan setapak selama 30 menit. 

Situs ini memang jarang dikunjungi, sehingga wajar jika kita tidak menemui jejak-jejak vandalisme di sini. Tidak ada coretan aku cinta kau, atau saya was here. Justru, yang sering berkunjung adalah penikmat wisata mistis atau para pegiat meditasi (pertapaan). Hal itu menambah nuansa magis sekaligus mistis ketika berkunjung ke sana. Bahkan menurut warga, di hari-hari tertentu sering terdengar suara gamelan dari sekitar area situs Condrogeni. Padahal ketika bunyi-bunyian gamelan terdengar, di sekitar lokasi tidak ada orang satupun. hiiiiiiiiiiii

Sumber:
1. http://gratishostingdi.blogspot.com/2013/05/situs-condrogeni.html
2. http://www.mlancong.com/detail/artikel/jalan-setapak-menuju-situs-condrogeni.html
3. http://www.garudamukha.com/?prm=galeri&norec=40







Read More

Thursday, July 2, 2015

Obong: Beginilah Warga Ngliman Menghargai Leluhurnya

  No comments
1:14:00 PM

Adicara Sungkeman sudah cukup dikenal banyak orang. Adegan ini merupakan adegan yang biasanya mengharukan dan sakral. Selain sebagai bentuk penghormatan sungkeman adalah prosesi yang sakral dimana mempelai pengantin lelaki dan perempuan meminta ijin dan restu kepada orang tua untuk menikah. Sungkeman juga dapat dideskripsikan sebagai sebauh cara seorang anak memohon maaf kepada orang tuanya. Di desa kami, Desa Ngliman, ada suatu ritual yang namanya sama, prosesinya beda. Adicara Sungkeman di Desa Ngliman bukan ketika acara pernikahan, melainkan ketika lebaran.

Adicara Sungkeman adalah sebuah upacara penghormatan kepada leluhur. Seperti diketahui, sejarah Ngliman erat hubungannya dengan Mbak Ngaliman. Beliau dipercaya sebagai leluhur dari warga Ngliman. Atas sejarah itu, setiap Hari Raya Idul Fitri, di Desa Ngliman diadakan ritual Adicara Sungkeman yang lebih dikenal dengan sebutan "Obong". Obong dilakukan di pagi hari, bahkan sebelum warga ber-sungkeman dengan keluarga.

Tahun lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti ritual Obong dari awal (tapi tidak sampai akhir). Ini merupakan yang pertama bagi saya, seperti apa ritual Obong ini akan dilalui pun sama sekali tidak saya mengerti. Hehehehe. Berangkat sebelum pukul 6.00 pagi, saya tiba di Kantor Desa yang letaknya bersebelahan dengan Gedong Pusaka. Di sana telah berkumpul pamong desa beserta sesepuh yang akan mengikuti prosesi Obong. Mereka berdiri berjajar mengelilingi rangkaian meja yang penuh dengan bunga kenanga. Saya kemudian sedikit berkesimpulan, ritual Obong ini semacam ziarah makam alias nyekar ke Makam Mbah Ngaliman.


 Setelah rombongan yang terdiri dari Pamong Desa, Juru kunci makam, Sesepuh, dan perwakilan tiap dusun lengkap, rombongan siap melakukan kirab menuju Makam Mbah Ngaliman. Bagi yang belum tahu, Makam Mbah Ngaliman terdiri dari Makam Gedong Kulon dan Makam Gedong Wetan. Tujuan pertama kami adalah Makam Gedong Kulon.



Setibanya di Makam, rombongan dipersilakan masuk ke dalam gedong makam, Prosesi Obong akan dilaksanakan di dalam ruangan makam dan dipimpin langsung oleh Kepala Desa didampingi Juru Kunci Makam. Inti dari acara ini adalah ziarah makam dan mendoakan mendiang. Saya tidak banyak bercerita tentang jalannya prosesi, biarlah foto yang menggambarkannya.
 





Prosesi berlangsung dengan sakral serta hikmat.

Obong belum usai sampai di situ. Seperti yang disampaikan di awal, Makam Mbah Ngaliman terdiri dari dua makam, sehingga prosesi ini dilanjutkan dengan kirab menuju ke Makam Gedong Wetan.
 Ini bagian yang paling menarik menurut saya. Sepanjang jalan menuju Makam Wetan telah berkumpul ratusan warga yang menanti rombongan kirab. Mereka bukan menunggu untuk berebut tumpeng, melainkan menyambut dan mengiringi rombongan kirab. Perlu diketahui, Makam Wetan berada satu lokasi dengan pemakaman umum warga Ngliman. Dan warga belum diijinkan nyekar sebelum acara kirab selesai. Saya melihat ini sebagai bentuk penghormatan warga terhadap leluhurnya.



Dan setelah ini, saya terjebak di kerumunan, dan tidak lagi mengikuti rombongan kirab. . . .

Sebagaimana disebutkan di awal, warga Desa Ngliman lebih mengenal ritual ini dengan sebuatan "Obong". Obong dalam bahasa Indonesia berarti "Bakar". Warga mengidentikan ritual ini dengan kegiatan membakar kemenyan pada rangkaian prosesinya dan membakar kotoran-kotoran yang mengotori makam, seperti daun-daun yang gugur. Warga berdatangan ke Pemakaman umum untuk nyekar ke makam keluarganya sekaligus membersihkan makam.

Di tahun ini, Adicara Sungkeman/ Obong akan dilaksanakan di hari pertama lebaran yang jatuh pada hari Minggu Wage tanggal 19 Juli 2015. Ini juga sangat menarik. Dalam penetapan tanggal lebaran, Warga Desa Ngliman menggunakan penanggalan ABOGE, yang lebaran setiap tahunnya sudah diketahui bertahun-tahun sebelumnya. Lain kali kita bahas ya . . . .

Read More

Wednesday, July 1, 2015

TUNGGAL ROGO MANDIRI: Wilayah Selingkar Gunung Wilis

  1 comment
10:38:00 AM


Sebagai warga sekitar Gunung Wilis, saya tidak banyak tahu tentang TUNGGAL ROGO MANDIRI, setelah cari-cari info, saya ingin bagikan informasi tentang TUNGGAL ROGO MANDIRI yang saya kompilasi dari berbagai sumber.

Apa itu TUNGGAL ROGO MANDIRI?

Untuk mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki, maka Gunung Wilis akan dikelola oleh enam daerah yang yang terletak disekitarnya. Enam daerah tersebut yakni Kabupaten Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, dan Madiun.Pelaksaan kerjasama tersebut diresmikan melalui penandatanganan naskah Kerjasama Antar Daerah di Selingkar Gunung Wilis” TUNGGAL ROGO MANDIRI” yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Trenggalek, 11 Juni 2014, tahun lalu.

Kerjasama TUNGGAL ROGO MANDIRI merupakan kerjasama antara 6 Kabupaten (Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, dan Kediri) yang posisinya berada di selingkar Gunung Wilis ;
  • Berdasarkan Kesepakatan Kerjasama yang ditandatanganitanggal 11 Juni 2014 di Kabupaten Trenggalek;
  • Secara Administrastif kawasan selingkar gunung wilis meliputi 6 Kabupaten yang terdiri dari 112 Kecamatan, 1.569 Desa/Kelurahan;
Luas wilayah : ± 7.942,88 km2 dengan jumlah penduduk ± 6.187.353 jiwa,

Kerja sama tersebut meliputi kerja sama pelayanan publik di bidang Pariwisata, Kesehatan, Pendidikan, Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Pertanian secara luas, Kependudukan, Lingkungan Hidup, Kebudayaan, Ketenagakerjaan, Perkoperasian, dan bidang lain sesuai kebutuhan Pemerintah Daerah.

Apa tindak lanjutnya?


Langkah selanjutnya yang harus segera dilakukan adalah pemetaan dan mencari tahu apa saja potensi yang ada di masing- masing daerah atau wilayah. Baru kemudian membuat klaster sekaligus solusi apa yang dibutuhkan di daerah itu dengan memperhatikan konsep kewilayahan, konsep sektor dan konsep kelompok bawah.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah infrastrukturnya. Infrastruktur seperti jalan rusak harus segera diperbaiki. Ini agar masyarakat pinggiran atau perbatasan di masing-masing wilayah tidak terisoalasi dan dapat merasakan pembangunan yang sekaligus meningkatkan kesejahteraannya.


Progres kerjasama antar daerah di selingkar Gunung Wilis “TUNGGAL ROGO MANDIRI”
  1. Telah disepakati trase jalan selingkar Gunung Wilis yang menghubungkan 6 Kabupaten pada tanggal 26 Februari 2015;
  2. Pemerintah Propinsi Jawa Timur akan melakukan kunjungan lapangan ke trase Selingkar Gunung Wilis yang berada di 6 (enam) kabupaten, mulai tanggal 8 Juni s/d 13 Agustus 2015;
  3. Akan ditindaklanjuti dengan penyusunan PKS (Perjanjian Kerjasama) sesuai dengan prioritas bidang yang disepakati untuk dikerjasamakan.
Penetapan Titik Koordinat dan Total Panjang Trase Jalan di Selingkar Gunung Wilis

Kabupaten Kecamatan Desa Koordinat Panjang Trase (Km)
1 Tulungagung Kec. Sendang Ds. Nyawangan 111°51’15.788″E 7°54’11.106″S ±   29,394 km
Kediri Kec. Mojo Ds. Petungroto
2 Kediri Kec. Grogol Ds. Kalipang 111°51’22.397″E 7°46’59.402″S ±   57,952  km
Nganjuk Kec. Loceret Ds. Bajulan
3 Nganjuk Kec. Sawahan Ds. Bendolo 111°44’3.515″E 7°43’28.466″S ±   34,855  km
Madiun Kec. Gemarang Ds. Durenan
4 Madiun Kec. Kare Ds. Kepel 111°40’39.814″E 7°46’27.907″S ±   31,300 km
Ponorogo Kec. Ngebel Ds. Pupus
5 Ponorogo Kec. Sooko Ds. Ngadirojo 111°38’44.788″E 7°57’6.549″S ±   39,400  km
Trenggalek Kec. Bendungan Ds. Masaran
6 Trenggalek Kec. Bendungan Ds. Botoputih 111°44’36.029″E 7°57’16.109″S ±   18,950 km
Tulungagung Kec. Pagerwojo Ds. Sidomulyo

TOTAL ± 211,851Km

*Trase jalan adalah garis rencana yang menghubungkan titik-titik yang menyatakan arah jalannya garis tengah dari jalan yang dibuat.

 Nah, itu kabar gembiranya . . ..
Jalan Selingkar Gunung Wilis, TUNGGAL ROGO MANDIRI. . . .
Walaupun secara penamaan TUNGGAL ROGO MANDIRI, Nganjuk cuma kebagian huruf "N", tidak mengecilkan peran Nganjuk. Dari panjangnya jalan yang dibangun, Jalur yang melewati Nganjuk pun sangat panjang. . . . Semoga proses berjalan lancar, progres semakin menggembirakan, dan pada akhirnya dapat mendatangkan kesejahteraan. . . .

Sumber:
1. https://touringrider.wordpress.com/2015/02/15/jalur-lingkar-wilis-akan-segera-dibangun/
2. http://bappeda.jatimprov.go.id/2014/06/12/potensi-gunung-wilis-dikelola-bersama-enam-daerah/
3. http://bappeda.tulungagung.go.id/kerja-sama-selingkar-gunung-wilis-2/
4.  http://bappeda.kedirikab.go.id/survei-trase-jalan-selingkar-wilis-di-kabupaten-kediri/

Read More

Tuesday, June 30, 2015

10 langkah mengolah Sari Mawar ala Mbak Lina

  No comments
1:33:00 PM

Sebagai kawasan menengah ke atas (dataran tinggi), Desa Ngliman bersuhu cukup dingin dengan kontur tanah yang menggunung-gunung. Daerah semacam itu ternyata merupakan habitat yang cocok bagi tanaman bunga-bungaan, terutama bunga mawar. Maka, sudah belasan tahun, warga desa ngliman menjadikan Bunga mawar sebagai komoditi unggulan. Selain wangi, berduri, ternyata mawar juga mampu menjadi penggerak ekonomi.

Selama ini, mawar dari Ngliman didistribusikan ke sejumlah pasar kembang di daerah jawa timur dan jawa tengah sebagai mawar tabur, ziarah kubur. Berbekal pengamatannya, Sri Kalinawati, atau yang biasa dipanggil Mbak Lina, yakin akan potensi olahan mawar. Selain unik, Sari Mawar merupakan produk yang belum dihasilkan oleh daerah lain. Mulailah Mbak Lina meramu formula, mencari cara mengolah mawar menjadi layak konsumsi. Ibarat kata, kalau minyak saja bisa diminum, mawar pun juga pasti bisa. Akhirnya, jadilah Sari Mawar yang bakal jadi produk andalan Ngliman ini.

Pada tulisan ini, Mbak Lina akan membagikan cara mengolah mawar menjadi sari mawar. Resep ini sebagaimana dituturkan beliau pada acara Merajut Asa Trans 7 beberapa waktu yang lalu.

1. Sempatkan dirimu memetik mawar langsung dari kebunnya. Jangan pilih bunga yang sudah layu sebelum berkembang.
2. Remas-remas bunganya, sampek rontok kelopaknya. Jangan lupa, cuci tangan, juga cuci bunganya dengan air bersih, tanpa harus mendidih. Ben gak mloyoh tangan halusmu.

3.Kelopak mawarnya kemudian direbus hingga warnanya larut dengan air. Merah airnya, putih kelopaknya. Ibarat pepatah, kelopak mawar akan mengalami fase habis manis sepah dibuang, dimakan ayam.
4. Air Rebusan Mawar kemudian disaring, selanjutnya direbus kembali dengan menambahkan 2 kilo gula plus 2 liter air untuk setiap 2 kg mawar. Oh iya, perlu diketahui, berdasarkan chef Juna di RCTI, resep itu bisa dikali, tapi belum tentu bisa dibagi. Jadi jangan asal mengurangi takaran ya.

5. Tambahkan Asam Sitrat untuk menjernihkan larutan gula. Jangan gunakan borak ya, berbahaya.

6. Rebus kurang lebih 30 menit sampai mendidih. Nunggu sambil baca artikel lain di blog ini ya . . .

7. Saring kembali, untuk memisahkan kotoran yang berasal dari gula.

8. Larutan Sari Mawar yang masih panas segera dikemas ke dalam gelas plastik, sekaligus mensterilkan gelas kemasan.

9. Untuk menghindari perubahan bentuk gelas, setelah larutan sari mawar dikemas, segera dimasukkan ke dalam air dingin.

10. Nah, Sari mawar ready tersaji dan siap disantap. Sari mawar bisa bertahan hingga 4 bulan lho di suhu ruangan, atau 6 bulan jika dimasukkan kedalam kulkas.

Ingin tahu lebih lanjut tentang Sari mawar? silakan datang langsung bertemu dengan Mbak Lina ya . . . bisa pesen produknya juga. . .

Read More